Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Stroke



BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penyakit stroke merupakan penyakit yang bisa menyebabkan kematian, karena dapat menyerang dengan tanpa atau adanya tanda-tanda atau pukulan yang hebat tanpa peringatan.Sehingga banyak masyarakat luas sangat takut dan merasa harus berhati-hati agar tidak terkena stroke, karena stroke merupakan penyakit yang serius dan membahayakan hidup seseorang. Perlu masyarakat umum ketahui berbagai tanda-tanda stroke yang harus diperhatiakn yaitu munculnya tanda -tanda kehilangan rasa atau lemah pada muka, bahu, atau kaki, terutama bila hanya terjadi separoh tubuh. Stroke dapat terjadi karena berbagai penyebab yang bisa menimbulkan stroke,karena adanya banyak pembuluh darah arteri dan cabang-cabang yang menyupali darah keotak. Oleh karena itu perlu mengenal tanda-tanda stroke dan garis besar penyebabnya, sehingga dapat memotivasi untuk mengubah kebiasaan tidak sehat yang mendorong timbulnya penyakit stroke yang membahayakan hidup seseorang.

Stroke sendiri terdiri dari beberapa macam stroke yaitu stroke hemoragi dan non hemoragi. Banyak masyarakat luas yang sering mengalami stroke non hemoragi dari pada stroke hemoragi, namun stroke hemoragi lebih 1x berbahaya karena adanya perdarahan.Karena dari terbitan National Stroke Association-USA menjelaskan lebih kurang 82% dari stroke adalah stroke non hemoragi. Stroke hemoragi terjadi khususnya pada penderita tekanan darah tinggi karena stroke hemoragi terjadi karena adanya perdarahan bila arteri diotak pecah. Untuk mencegah dan menurunkan angka kematian pada penderita stroke hemoragi khususnya serta mencegah adanya komplikasi dan masalah lain maka perlu adanya pelayanan kesehatan yang memadai yang dapat menunjang kesembuhan pasien stroke hemoragi dengan adanya pendidikan kesehatan pada masyarakt luas serta memberikan asuhan keperawatan yang sesuai standar keperawatan yang benar. Ikutkan keluarga untuk memotivasi dan berikan dorongan agar pasien untuk semangat dalam melawan penyakit yang diderita untuk mencapai kesembuhan. Dari latar belakang tersebut kami mengambil kasus tersebut sebagai penyusunan makalah dengan mengambil judul “Asuhan

Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Persyarafan Sroke”

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulis ini terbagi 2 bagian yaitu :

  1. Tujuan Umum

Menambah pengetahuan dan mendapatkan gambaran dan ilmu dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

2. Tujuan Khusus

1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada penderita stroke

2. Menentukan diagnosa keperawatan pada penderita stroke

3. Merencanakan tindakan keperawatan pada penderita stroke

4. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana untuk kasus pada penderita stroke

5. Melaksanakan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilaksanakan untuk keperawatan pada penderita stroke

6. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengatasi agar dapat menerapkan penanganan atau perawatan yang tepat. pada penderita stroke

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP MEDIS

A. Pengertian

Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO, 1989).

B. Klasifikasi Stroke

Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :

1.Stroke Hemoragik

Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.

2. Stroke Non Hemoragik

Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak

Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaitu :

  1. TIA’S (Trans Ischemic Attack)

Gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

  1. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)

Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu..

  1. Stroke in Volution

Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.

  1. Stroke Komplit

Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent.

C. Etiologi

Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ;

  1. Hipertensi,

Dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.

2. Aneurisma pembuluh darah cerebral

Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan.

3. Kelainan jantung / penyakit jantung

Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah.

4.   Diabetes mellitus (DM)

Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.

5. Usia lanjut

Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.

6. Polocitemia

Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.

7. Peningkatan kolesterol (lipid total)

Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.

8. Obesitas

Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh drah otak.

9. Perokok

Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis.

10.  Kurang aktivitas fisik

Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.

D. Patofisiologi

1. Stroke non hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.

2. Stroke hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.

Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

E. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena.

  1. Pengaruh terhadap status mental
  • · Tidak sadar : 30% – 40%
  • · Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar
  • · Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%)
  • · Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%)
  • · Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%)
    • · Hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)
    • · Inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena
    • · Nyeri spontan pada kepala
    • · Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%)
    • · Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak
    • · Hemiplegia alternans atau tetraplegia
    • · Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil)
  1. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:
  1. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:
  1. Daerah arteri serebri posterior
  1. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan:

Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena, gejala dapat berupa:

  1. Stroke hemisfer kanan
  • · Hemiparese sebelah kiri tubuh
  • · Penilaian buruk
  • · Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan
    • · Mengalami hemiparese kanan
    • · Perilaku lambat dan sangat berhati-hati
    • · Kelainan bidang pandang sebelah kanan
    • · Disfagia global
    • · Afasia
    • · Mudah frustasi
  1. Stroke hemisfer kiri

F. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah :

  1. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
  2. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark
  3. MRI untuk mengetahui adanya edema, infark, hematom dan bergesernya struktur otak
  4. angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu

G. Penatalaksanaan Medis

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah:

  1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil
  2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan
  3. Tanda-tanda vital diusahakan stabil
  4. Bed rest
  5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia
  6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi
  8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik
  9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK
  10. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT
  11. Penatalaksanaan spesifik berupa:
  • · Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat hemoragik
  • · Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya, neuroprotektor, tindakan pembedahan, menurunkan TIK yang tinggi

2.2  KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a) Keadaan umum

(1) Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran

(2) Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara

(3) Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

b) Pemeriksaan integumen

(1) Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu

(2) Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

(3) Rambut : umumnya tidak ada kelainan

c) Pemeriksaan kepala dan leher

(1) Kepala : bentuk normocephalik

(2) Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi

(3) Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)

d) Pemeriksaan dada

Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.

e) Pemeriksaan abdomen

Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.

f) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine

g) Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

h) Pemeriksaan neurologi

(1) Pemeriksaan nervus cranialis

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

(2) Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

(3) Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi.

(4) Pemeriksaan refleks

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.(Jusuf Misbach, 1999).

i) Pemeriksaan penunjang

a) Pemeriksaan radiologi

(1) CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)

(2) MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)

(3) Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)

(4) Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita

stroke. (Jusuf Misbach, 1999)

b) Pemeriksaan laboratorium

(1) Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)

(2) Pemeriksaan darah rutin

(3) Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)

(4) Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)

B. Rencana Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. penumpukan sputum (karena kelemahan, hilangnya refleks batuk) Pasien mampu mempertahankan jalan nafas yang paten. 

Kriteria hasil :

a. Bunyi nafas vesikuler

b. RR normal

c. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat

d. Tidak ada sputum

1. Auskultasi bunyi nafas 

2. Ukur tanda-tanda vital

3. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain)

4. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun

5. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam

6. Kolaborasi:

  • · Pemberian ogsigen
  • · Laboratorium: Analisa gas darah, darah lengkap dll
  • · Pemberian obat sesuai kebutuhan
2. Penurunan perfusi serebral b.d. adanya perdarahan, edema atau oklusi pembuluh darah serebral Perfusi serebral membaik 

Kriteria hasil :

a. Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat)

b. fungsi kognitif, memori dan motorik membaik

c. TIK normal

d. Tanda-tanda vital stabil

e. Tidak ada tanda perburukan neurologis

1. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS, memori, bahasa respon pupil dll 

2. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien)

3. Pantau intake-output cairan, balance tiap 24 jam

4. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat

5. Hindari valsava maneuver seperti batuk, mengejan dsb

6. Pertahankan ligkungan yang nyaman

7. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular

8. Kolaborasi:

  • · Beri ogsigen sesuai indikasi
  • · Laboratorium: AGD, gula darah dll
  • · Penberian terapi sesuai advis
  • · CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring
3. Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan neuromuskuler, kelemahan, hemiparese Pasien mendemonstrasikan mobilisasi aktif 

Kriteria hasil :

a. tidak ada kontraktur atau foot drop

b. kontraksi otot membaik

c. mobilisasi bertahap

1. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien 

2. Pantau kekuatan otot

3. Rubah posisi tiap 2 jan

4. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah

5. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil

6. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien

7. Kolaborasi: fisioterapi

4. Gangguan komunikasi verbal b.d. kerusakan neuromuscular, kerusakan sentral bicara Komunikasi dapat berjalan dengan baik 

Kriteria hasil :

a. Klien dapat mengekspresikan perasaan

b. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain

c. Pembicaraan pasien dapat dipahami

1. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien, jika berat hindari memberi isyarat non verbal 

2. Lakukan komunikasi dengan wajar, bahasa jelas, sederhana dan bila perlu diulang

3. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara

4. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara

5. Latih otot bicara secara optimal

6. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien

7. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara

5. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi 

Kriteria hasil :

a. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

b. Berat badan dalam batas normal

c. Conjungtiva ananemis

d. Tonus otot baik

e. Lab: albumin, Hb, BUN dalam batas normal

1. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum 

2. Hitung kebutuhan nutrisi perhari

3. Observasi tanda-tanda vital

4. Catat intake makanan

5. Timbang berat badan secara berkala

6. Beri latihan menelan

7. Beri makan via NGT

8. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb, Albumin, BUN), pemasangan NGT, konsul ahli gizi

6. Perubahan persepsi-sensori b.d. perubahan transmisi saraf sensori, integrasi, perubahan psikologi Persepsi dan kesadaran akan lingkungan dapat dipertahankan 1. Cari tahu proses patogenesis yang mendasari 

2. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan, taktil

3. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman

4. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin, posisi dan proprioseptik

5. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan

6. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan

7. Bicara dengan tenang dan perlahan

8. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali

7. Kurang kemampuan merawat diri b.d. kelemahan, gangguan neuromuscular, kekuatan otot menurun, penurunan koordinasi otot, depresi, nyeri, kerusakan persepsi Kemampuan merawat diri meningkat 

Kriteria hasil :

a. mendemonstrasikan perubahan pola hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

b. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan

c. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan

1. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri 

2. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja

3. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri

4. Libatkan keluarga dalam membantu klien

5. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan

6. Sediakan alat Bantu diri bila mungkin

7. Kolaborasi: pasang DC jika perlu, konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi

8. Risiko cedera b.d. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan 

Kriteria hasil :

a. Klien tidak terjatuh

b. Tidak ada trauma dan komplikasi lain

1. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien 

2. Beri pengaman pada daerah yang sehat, beri bantalan lunak

3. Hindari restrain kecuali terpaksa

4. Pertahankan bedrest selama fase akut

5. Beri pengaman di samping tempat tidur

6. Libatkan keluarga dalam perawatan

7. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam, dilantin dll)

9. Kurang pengetahuan (klien dan keluarga) tentang penyakit dan perawatan b.d. kurang informasi, keterbatasan kognitif, tidak mengenal sumber Pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit dan perawatan meningkat. 

Kriteria hasil :

a. Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses belajar

b. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, pengobatan, dan perubahan pola hidup yang diperlukan

1. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri 

2. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga

3. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah

4. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup

5. Buat daftar perencanaan pulang

C. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan  yaitu sebagai berikut :

  1. Stroke merupakan kejadian yang membingungkan sering kali berbagai masalah yang timbul dalam penyakit stroke dengan adanya komplikasi yang bisa timbul sehingga dapat mengakibatkan kematian seseorang yang menderita stroke.
  2. Stroke terdiri dari beberapa macam stroke yaitu stroke hemoragi dan non hemoragi.
  3. Darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

SARAN

Adapun yang menjadi saran dari hasil pembahasan di atas yakni :

  1. Kenali tanda-tanda stroke dan garis besar penyebabnya, sehingga dapat memotivasi untuk mengubah kebiasaan tidak sehat yang mendorong timbulnya penyakit stroke yang membahayakan hidup.
  2. Pencegah dan penurunkan angka kematian pada penderita stroke hemoragi khususnya serta mencegah adanya komplikasi dan masalah lain maka perlu adanya pelayanan kesehatan yang memadai yang dapat menunjang kesembuhan pasien stroke hemoragi dengan adanya pendidikan kesehatan pada masyarakt luas serta memberikan asuhan keperawatan yang sesuai standar keperawatan yang benar.
  3. Ikutkan keluarga untuk memotivasi dan berikan dorongan agar pasien untuk semangat dalam melawan penyakit yang diderita untuk mencapai kesembuhan.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Asuhan Keperawatan Hernia

TINJAUAN TEORI

HERNIA

 

A. KONSEP MEDIK

Pengertian

Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan yang terdiri atas cincin, kantong, dan isi Hernia (Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, 2005 : 523)

Hernia adalah masuknya organ kedalam rongga yang disebabkan oleh prosesus vaginalis berobliterasi (paten) (Mansjoer, Arief, 200 : 382)

Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/ sebagian dari organ melalui lubang pada struktur disekitarnya.

Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kanalis inguinal (lipat paha). Operasi hernia adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi semula dan menutup cincin hernia.

Etiologi

  • Hernia congenital:

 Processus vaginalis peritoneum persisten

 Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap terbuka

 Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka

 Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu.

 Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa.

 Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele

  • Hernia didapat:

 Ada factor predisposisi

 Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa

 Pada orang tua karena degenerasi/atropi

 Tekanan intra abdomen meningkat

 Pekerjaan mengangkat benda-benda berat

 Batuk kronik

 Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras

 Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis

 Sering melahirkan: hernia femoralis (karisyogya.blog.m3-access.com).

Klasifikasi Hernia

a)         Berdasarkan proses terjadinya hernia terbagi atas :

  • Hernia bawaan (Kongenital)
  • Hernia dapatan (akuisita)

b)        Berdasarkan letak, Hernia terbagi atas :

  • Hernia diafragma
  • Hernia inguinalis
  • Hernia umbilical
  • Hernia strotalis
  • Hernia insisional.

1. Hernia congenital:

- Hernia umbilikalis

- Hernia diafragnatika

- Hernia inguinalis lateralis

2. Hernia didapat:

- hernia inguinalis medialis

- Hernia femoralis

Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246). Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216). Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253). Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).

Berdasarkan sifatnya hernia terbagi menjadi:

    Hernia reponible yaitu bila isi hernia dapat dimasukkan kembali. Usus keluar bila berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk. Tidak terdapat keluhan atau gejala obstruktif.

    Hernia ireponible yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan kedalam rongga, hal ini disebabkan perlengketan isi usus pada peritoneum kantong hernia. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus.

Tanda Dan Gejala Hernia
1. Hernia reponible tanda dan gejalanya:

 Pasien merasa tidak enak di tempat penonjolan.

 Ada penonjolan di salah satu lokasi abdomen misalnya inguinal, femoralis dan lain-lain. Benjolan timbul saat mengejan BAB, mengangkat beban berat ataupun saat aktivitas berat dan hilang pada waktu istirahat baring.

 Kadang-kadang perut kembung.

 Apabila terjadi perlengketan pada kantung hernia dan isi hernia maka tidak dapat dimasukkan lagi (ireponibel).

2. Hernia inkarserata, tanda dan gejalanya :

 Adanya gambaran obstruksi usus dimana pasien mengalami obstipasi, muntah, tidak flatus, perut kembung dan dehidrasi.

 Terjadi gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa.

 Bila lelah terjadi strangulasi. Pasien mengalami nyeri hebat di daerahhernia, dimana nyeri menetap karena rangsangan peritoneum. Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan lagi diserta nyeri tekan dan tergantung keadaan isi hernia.

 Dapat dijumpai tanda peritonitis atau terjadi abses local, keadaan ini merupakan keadaan gawat darurat dan memerlukan pertolongan segera.

Patofisiologi

Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah  penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.

Pathway bagan

Obesitas, batuk, kongental, mengedan, pengangkatan beban berat

Meningkatnya tekanan intra abdomen

Rusaknya integritas dinding otot perut

Alat tubuh atau organ akan terdorong keluar melalui defek

Penonjolan suatu organ

(hernia)

Penatalaksanaan medis

1)          Terapi konservatif/non bedah meliputi :

  • Pengguanaan alat penyangga bersifat sementara seperti pemakaian sabuk/korset pada hernia ventralis.
  • Dilakukan reposisi postural pada pasien dengan Hernia inkaseata yang tidak menunjukkan gejala sistemik.

2)          Terapi umum adalah terapi operatif.

3)          Jika usaha reposisi berhasil dapat dilakukan operasi herniografi efektif.

4)          Jika suatu operasi daya putih isi Hernia  diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 mennit di evaluasi kembali.

5)          Jika ternyata pada operasi dinding perut kurang kuat sebaiknya digunakan marleks untuk menguatkan dinding  perut setempat.

6)          Teknik hernia plastik, endoskopik merupakan pendekatan dengan pasien berbaring dalam posisi trendelernberg 40 OC.

7)          Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.

8)          Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengadan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.

9)          Hindari aktivitas-aktivitas yang  berat.

Komplikasi

  • Hernia berulang,
  • v  Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
  • Pendarahan yang berlebihan / infeksi lluka bedah,
  • Luka pada usus (jika tidak hati-hati),
  • Setelah herniografi dapat terjadi hematoma,
  • Fostes urin dan feses,
  • Residip,
  • Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.

B. KONSEP KEPERAWATAN

Pengkajian

Pengkajian  pasien Post operatif   (Doenges, 1999) adalah meliputi :

  • Ø Sirkulasi

Gejala :    riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).

  • Ø Integritas ego

Gejala :    perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.

Tanda :     tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.

  • Ø Makanan / cairan

Gejala :    insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).

  • Ø Pernapasan

Gejala :    infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

  • Ø Keamanan

Gejala :    alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi  sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.

Tanda :     menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.

  • Ø Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala :    pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan  ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi)

Diagnosa Keperawatan yang sering muncul

Periode pra-operatif (Doenges, 1999)

  • Nyeri behubungan dengan adanya otot tegang dan respon otomatis.

Periode post-operatif (Doenges, 1999).

  • Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
  • Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
  • Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
  • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
  1. Perencanaan dan implementasi

a)          Diagnosa periode pra-operatif (Doenges, 1999)

  • Ø Nyeri behubungan dengan adanya otot tegang dan respon otomatis

Tujuan : klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, tampak rileks, mampu tidur / istirahat dengan tepat

INTERVENSI

  • Kaji nyeri, catat lokasi nyeri, karakteristik, beratnya (skala 0-4)

Rasional : berguna dalam pengawasan keefektifan obat & kemajuan penyembuhan.

  • Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler

Rasional : Grafitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau felvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.

  • Dorong ambulasi dini

Rasional : meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh: merangsang peristaltik & kelancaran flatus & menurunkan ketidaknyamanan abdomen.

  • Berikan aktivitas hiburan

Rasional : fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi & dapat meningkatkan kemampuan koping

  • Kolaborasi : Pertahankan puasa

Rasional : menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan iritasi gaster/muntah.

  • Klaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi.

Rasional : menghilangkan nyeri , mempermudah kerja sama dengan intervensi terapi lain.

  • Ø Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan puasa

Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembapan membran mukosa, turgor kulit baik, standart Vital  stabil, & secara individual haluaran urine yang adekuat.

INTERVENSI

  • Observasi Vital sign

Rasional : tanda yang membantu mengetahui tindakan keperawatan selanjutnya.

  • Lihat membran mukosa : kaji turgor kulit dan pengisian kapiler

Rasional : Indikator keadekuatan sirkulasi, perifer & hidrasi seluler.

  • Awasi masukan & haluaran : Catat warna urine, konsentrasi & berat jenis

Rasional : penurunan haluaran urin pekat dengan peningkatan berat jenis, diduga dehidrasi / kebutuhan peningkatan cairan

  • Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus & gerakan usus

Rasional : indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan peroral.

  • Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukkan peroral dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi.

Rasional : menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan

  • Berikan perawatan mulut sering & perhatian khusus pada perlindungan bibir

Rasional : dehidrasi mengakibatkan bibir & mulut kering & pecah-pecah

  • Kolaborasi : berikan cairan IV dan elektrolit

Rasional : peritonium bereaksi terhadap iritasi / infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia.

  • Ø Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhungan dengan intake yang tidak adekuat.

Tujuan : mendemonstrasikan pemeliharaan / kemajuan penambahan berat badan yang di inginkan dengan normalisasi nilai Laboratorium & tak ada tanda-tanda Malnutrisi.

INTERVENSI

  • Timbang BB sesuai indikasi, Catat masukan & haluaran

Rasional : mengidentifikasi status cairan, serta memastikan kebutuhan metabolik

  • Auskultasi bising usus, palpasi abdomen

Rasional : Menentukan kembalinya peristaltik (biasanya dalam 2 – 4 hari)

  • Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan diet dari pesien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein & vitamin C.

Rasional : meningkatkan kerjasama pasien, dengan aturan diet protein/Vit C adalah kontributor utama untuk pemeliharaan jaringan & perbaikkan. Malnutrisi adalah faktor dalam menurunkan pertahanan terhadap infeksi

  • Observasi terhadap terjadinya diare, makanan bau busuk & berminyak

Rasional : sindrom malabsorbsi dapat terjadi setelah pembedahan usus halus memerlukan evaluasi lanjutan & perubahan diet

  • Kolaborasi : Berikan cairan IV misalnya Albumin, lipid dan elektrolit.

Rasional : memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. Inflamasi usus, erosi mukosa, infeksi atau neoplasma dapat menimbulkan anemia atau malabsorbsi, menurunkan pengiriman nutrien pada tingkat seluler.

  • Memberikan obat-obat sesuai indikasi. Antimetik, mis ploklorparazin

Rasional : mencegah muntah.

  • Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi dan perubahan status kesehatan.

Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan & potensial komlikasi. Berpartisipasi dalam program pengobatan

INTERVENSI

  • Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis dan kemungkinan pilihan pengobatan.

Rasioanal: mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan/salah informasi & memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuai keperluan.

  • Berikan informasi khusus tentang pencegahan penyakit

Rasional : klien dan keluarga dapat memahami cara pencegahan penyakit guna untuk pengetahuan lebih lanjut.

  • Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik & laboratorium.

Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien.

  • Berikan kesempatan klien & keluarga untuk bertanya apabila ada yang kurang dipahami

Rasional : untuk mengetahui tingkat pemahaman klien tentang penyakitnya.

  • Berikan respon yang baik jika klien dan keluarga menjawab pertanyaan dengan benar

Rasional : menanbah percaya diri & memotivasi klien.

b)          Diagnosa periode post-operatif (Doenges, 1999).

  • Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.

Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria Hasil :    –     klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang

-          tanda-tanda vital normal

-          pasien tampak tenang dan rileks

INTERVENSI

  • pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.

  • Anjurkan klien istirahat ditempat tidur

Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri

  • Atur posisi pasien senyaman mungkin

Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.

  • Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman

  • Kolaborasi untuk pemberian analgetik.

Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.

  • Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.

Tujuan : tidak ada infeksi

Kriteria hasil : – tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.

-    luka bersih tidak lembab dan kotor.

-    Tanda-tanda vital normal

INTERVENSI

  • Pantau tanda-tanda vital.

Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.

  • Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.

Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.

  • Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.

Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

  • Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan  leukosit.

Rasional : penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.

  • Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.

Rasional : antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

  • Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.

Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman

Kriteria hasil : – pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.

-  pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur

-  kualitas dan kuantitas tidur normal

INTERVENSI

1)   Mandiri

a)      Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.

Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.

b)      Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus

Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.

c)      Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.

Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang  mencapai tidur pulas.

d)     Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.

Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.

e)      Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.

Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk

f)       Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.

Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.

g)      Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”

Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.

2)   Kolaborasi

a)      Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).

Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.

b)      Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).

Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.

c)      Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).

Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.

  • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.

Kriteria hasil : – perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.

- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.

-    Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

INTERVENSI

  • Rencanakan periode istirahat yang cukup.

Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

  • Berikan latihan aktivitas secara bertahap.

Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

  • Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

  • Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.

Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

DAFTAR PUSTAKA

1.   Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.

  1. Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3.  EGC, Jakarta.

3.   Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.

  1. http://karisyogya.blog.m3-access.com/posts/38272_ASUHAN-KEPERAWATAN-HERNIA.html

5.   Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.

  1. Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
  2. Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta :  FKUI.

8.   W.A.  Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.


Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment